Alasan Nabi Menganjurkan Kepada Kita Untuk Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan

Source img: hellosehat.com

Makanmu hendaknya diniatkan untuk bertaqwa dengan mentaati Allah Ta'ala dan beribadah kepada-Nya, disamping merupakan makanan yang halal.

Allah SWT berfirman: "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh". (QS. Al-Mukminun:51).

Apabila makanmu karena Allah, maka patutlah engkau lebih dulu mencuci tangan. Karena sabda nabi Saw,: "Wudhu (mencuci tangan) sebelum makan menolak kemiskinan dan sesudahnya menolak kegilaan."

Hendaknya engkau makan diatas soprah (sejenis tempat makanan yang dipakai secara bersama-sama lebih dari dua orang), karena hal itu lebih mendekati sunat. Apabila dihidangkan makanan kepada nabi Saw, beliau meletakkannya diatas tanah, karena lebih menunjukkan kerendahan diri.

Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Aku tidak makan sambil bersandar. Sesungguhnya aku adalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan dan minum sebagaimana hamba minum".

Dikatakan, ada empat hal yang baru setelah masa Rasulullah Saw, yaitu: Jamuan makan (prasmanan), ayakan, jamuan minum dan pesta makan.

Kami tidak mengatakan bahwa makan diatas meja makan itu dilarang, tidaklah yang baru itu di larang. Hendaknya ia duduk dengan baik di atas soprah pada awal duduknya dan seterusnya demikian.

Begitulah yang dilakukan Rasulullah Saw. Kadang-kadang beliau berlutut untuk makan dan duduk diatas telapak kakinya dan terkadang beliau menegakkan kaki yang kanan dan duduk di atas telapak kaki kiri.

Makruh hukumnya makan dan minum sambil tidur dan bersandar, kecuali bila ada yang memberatkannya. Hendaklah ia berniat makan dan minum sedikit, karena tidak benar niat makannya untuk ibadah, kecuali dengan itu.

Nabi Muhammad Saw. Bersabda:
"Tidaklah anak Adam memenuhi wadahnya yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang menegakkan sulbinya. Jika tidak dapat dilalukannya, maka sepertiga bagi makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga bagi nafas".

Dengan demikian, ia seharusnya tidak makan kecuali sesudah merasa lapar, karena makan terlalu kenyang membuat hati menjadi keras. Dan hendaknya berhenti sebelum kenyang dan tidak menunggu makanan dan kuah yang enak, karena termasuk kemuliaan roti adalah tidak menunggu kuah.

Ia juga sepatutnya berusaha keras memperbanyak orang, walaupun dari keluarga dan anak. Sebaik-baik makanan adalah jika banyak orang yang memakannya.

"Nabi Saw. Tidak makan sendirian".

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel