Perangilah Nafsu dan Hasratmu


Syaikh 'Abdul Qadir Jailani R.A. Berkata: Hanya ada Allah 'Azza wa Jalla dan dirimu, dan engkau berhadapan dengan-Nya. Diri manusia adalah musuh Allah. Segala sesuatu tunduk kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Perkasa. Diri itu sendiri adalah ciptaan dan milik Allah 'Azza wa Jalla. Diri manusia memiliki angan-angan yang darinya muncul harapan, keinginan, syahwat, dan kenikmatan palsu.

Apabila engkau seiring dengan Allah YAng Maha tinggi lagi Maha Agung dalam memerangi dirimu karena Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT kepada Dawud a.s.:

"Wahai Dawud, ibadah artinya engkau menjadikan dirimu sebagai musuh karena Aku. Maka ketika itu pengagungan dan ibadahmu betul-betul hanyalah kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung. Lalu akan datang bagianmu dengan sangat menyenangkan dan engkau menjadi orang mulia dan yang dimuliakan, serta segala sesuatu akan berkhidmat, mengagungkan dan membesarkanmu, karena semua itu tunduk dan taat kepada Tuhannya Yang Maha Kuasa, karena Dia adalah Pencipta dan yang menghidupkannya. Semua itu dapat di raih dengan ibadah".

Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung telah berfirman: Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi engkau sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Penyayang (QS Al-Isra':44), yaitu menyebut dan menyembah-Nya.

Dan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung telah berfirman: " lalu dia berkata kepadanya dan kepada Bumi: "Datanglah engkau berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa! "Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati." (QS 41:11).

Maka ibadah sejati adalah memerangi diri dan hawa nafsu,sebagaimana firman Allah SWT: Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah (QA 38:26). Dan Allah SWT berfirman kepada Dawud as.: "Jauhkanlah hawa nafsumu, karena tidak ada yang menentang kekuasaan-Ku kecuali hawa nafsu".

Sebuah hikayat yang terkenal yang diriwayatkan oleh Abu Yazid al- Busthami r.a. ketika bermimpi melihat Tuhan Yang Maha Kuasa dan ia bertanya kepada-Nya: "Bagaimana jalan menuju-Mu wahai Tuhanku yang Maha Agung?" Dia Menjawab: " Tinggalkan dirimu dan kemarilah." Lalu Abu Yazid berkata: "Maka aku keluar dari diriku seperti ular melepaskan kulitnya".

Maka jelas sudah bahwa semua kebaikan terletak pada memerangi diri dalam segala hal dan dalam semua keadaan. Jika engkau dalam keadaan taqwa, maka lawanlah dirimu, dengan keluar dari perkara-perkara yang haram, subhat,dan mengandung fitnah, jangan tergantung pada makhluk, yajin dengan mereka, takut kepada mereka, berharap kepada mereka, tamak terhadap dunia yang dimiliki mereka.

Jangan sekali-kali emgkau mengharapkan pemberian mereka baik lewat hadiah, zakat, sedekah, kafarat maupun nadzhar. Putuskanlah kepentinganmu dengan mereka pada semua sisi. Sekalipun mungkin engkau memiliki orang tua yang kaya dengan harta, jangan sekali-kali memgharapkan kematiannya untuk mendapatakan warisan hartanya.

Maka keluarlah dari makhluk dan anggaplah semuanya laksana pintu,dibuka dan ditutup, dan laksana sebuah pohon yang kadang berbuah dan kadang tidak. Semua itu terjadi karena ada yang melakukan dan memgaturnya, yaitu Allah SWT. Apabila keyakinan ini telah tertanam didalam dirimu, berarti engkau telah menjadi muwahhid sejati, orang yang benar-benar mengesankan-Nya.

Selain itu, jangan lupakan peran usaha manusia, agar kita tidak termasuk penganut faham Jabbariyyah(*), dan yakinilah bahwa semua perbuatan tidak akan terwujud tanpa peran Allah Azza wa Jalla, agar engkau tidak menyembah mereka dan melupakan Allah SWT.

Dan jangan engkau katakan bahwa perbuatan mereka tanpa ada campur kekuasaan Allah, sehinhga engkau akan menjadi kufur  dan menjadi orang yang memiliki faham Qodarriyyah(**).

Akan tetapi katakanlah penciptaaan adalah perbuatan Allah SWT dan hamba mempunyai kesempatan berusaha, sebagaimana yang diterangkan dalam atsar mengenai pembahasan masalah pahala dan siksa.

Laksanakanlah perintah Allah SWT berkenaan dengan manusia dan pisahkanlah bagianmu dari mereka dengan perintah-Nya dan jangan melampaui batas-Nya, karena hukum Allah pasti berlaku terhadapmu maupun terhadap mereka.

Jadi, janganlah engkau menjadi hakim sendiri. Karena keberadaanmu bersama mereka merupakan takdir, dan takdir adalah kegelapan, maka masukilah kegelapan itu dengan mbawa pelita, yaitu Al-qur'an dan Sunnah. Jangan keluar dari keduanya.

Apabila muncul suatu ide atau inspirasi, maka hadapkanlah semua itu pada Al-qur'an dan Sunnah. Jika engkau mendapati didalam kedua sumber itu ada pengharaman atas hal itu, seperti pikiran untuk berzina, atau riba, atau bergaul dengan orang fasiq dan durhaka, atau kemaksiatan lannya, maka tolaklah, tinggalkanlah, jangan diterima, dan jangan melakukannya.

Dan pastikan bahwa gagasan itu dari setan yang terkutuk. Dan apabila didalam Al-qur'an dan Sunnah engkau dapati hal itu dibolehkan, misalnya syahwat yang halal seperti: makan, minum, berpakaian, dan menikah, maka tinggalkan juga dan jangan diterima. Ketahuilah bahwa semua itu berasal dari bisikan diri dan hawa nafsu, dan engkau telah diperintahkan untuk menghindari dan melawannya.

Dan jika tidak kau dapati dalam Al-qur'an dan Sunnah suatu keterangan yang mengharamkan maupun yang membolehkan, tetapi hanya merupakan masalah yang tidak dapat dimengerti, seperti jika dikatakan: Datanglah ke tempat ini dan itu, jumpailah seseorang (yang shaleh), padahal tidak ada kepentinganmu di sana maupun dengan (orang shaleh) itu keutamaan yang dianugerahkan Allah kepadamu berupa nikmat-nikmat-Nya dalam bentuk ilmu dan Makrifat, maka berhentilah disitu dan jangan terburu-buru.

Bertanyalah kepada dirimu sendiri: Apakah ini ilham dari Allah sehingga aku harus melakukannya? Tetapi tunggulah hingga datang kebaikan dan tindakan Allah atas hal itu dengan cara memunculkan kembali ilham itu berulang-ulang sehingga engkau terdorong untuk melakukannya, atau dengan memunculkan suatu tanda kepada orang yang mengenal Allah Azza wa Jalla, sehingga para wali Allah yang berakal dapat memahaminya.

Demikian pula orang-orang dari abdal. Tidak tergesa-gesa itu dikarenakan engkau tidak tahu akibat dan dampaknya. Dan terhadap apa-apa yang mengandung fitnah dan ujian dari Allah SWT, maka bersabarlah hingga Allah sendiri yang melakukannya tethadap dirimu.

Jika perbuatan Allah itu telah terlaksana dan engkau dihadapkan pada ujian (fitnah), maka engkau ada dibawah kekuasaan dan penjagaan-Nya, karena Allah SWT tidak akan menyiksamu atas perbuatan-Nya sendiri.

Siksaan itu akan ditimpakan kepadamu jika engkau berperan dalam sesuatu hal. Sedangkan jika engkau berada pada keadaan hakikat (halal al-Haqiqah), yaitu keadaan penguasaan diri (wilayah), maka perangilah hawa nafsu dan ikutilah semua perintah-Nya.

Mengikuti amr terbagi menjadi dua macam:

Pertama, engkau mengambil bagian dari dunia sekadar untuk makan, sebagai hak jasmani, dan meninggalkan bagian yang lain, melaksanakan yang wajib, menyibukkan diri dengan meninggalkan dosa, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Kedua, apa yang merupakan amr batin, maka ia merupakan amr Allah SWT. Dia memerintah dan melarang hamba-Nya. Amr ini diwujudkan dalam bentuk pembolehan (mubah) sesuatu yang tidak ada hukumnya dalam syariat. Artinya, ia bukan termasuk perkara yang dilarang dan bukan pula termasuk perkara yang diwajibkan, tetapi dibiarkan begitu saja. Biar hamba itu sendiri yang memilihnya. Yang seperti ini disebut mubah.

Disitu seorang hamba tidak diberi tahu apa-apa, tetapi dia hanya menunggu amr. Jika muncul amr, ia laksanakan. Sehingga semua gerak-geriknya berada dibawah kehendak Allah SWT.

Apa yang hukumnya ada dalam syariat, maka dia melakukan sesuai syariat. Dan apa yang tidak ada dalam syariat, maka dengan amr batin. Maka ketika itulah ia benar-benar termasuk ahli hakilat. Dan apa-apa yang tidak ada amr batin disitu, maka yang tepat adalah bersikap pasrah.

Jika engkau berada dalam keadaan keyakinan mutlak kepada Allah (haqqul-haqq), yaitu keadaan lebur (mahw) dan lenyap (fana'), yang merupakan keadaan para abdal dan orang-orang yang hancur hatinya karena merindukan Allah SWT, yang mengesakan Allah, ahli makrifat, penguasa ilmu, khalifah Allah Yang Maha Pengasih, dan kekasih-Nya, maka mengikuti amr dalam hal ini adalah memerangi hawa nafsumu dengan membebaskan diri dari berbagai daya dan kekuatan.

Dan tidak boleh ada lagi keinginan dan perhatian pada dunia dan akhirat, sehingga engkau menjadi hamba Sang Raja dan bukan budak kekuasaan, dan hamba amr dan bukan budak nafsu, laksana anak kecil dalam buaian, atau mayat yang sedang dimandikan, atau laksana orang sakit yang tak sadar di tangan seorang dokter, yang berada di luar jangkauan perintah dan larangan.

@$/___&__&_>>

(*) = Jabariyyah yaitu faham yang meyakini tidak adanya peran dan pilihan bagi seorang hamba, dan itu mesti terjadi, bagaikan bulu angsa yang tertiup angin. Mereka meyakini bahwa tidak ada kekuasaan bagi manusia, semua perbuatan datang atas kehendak Allah SWT.

(**) = Qadarriyah yaitu faham yang meyakini bahwa seseorang hamba kuasa dan berkehendak atas perbuatan yang dipilihnya, dan Allah SWT telah menyerahkan kuasa kepadanya.

Bagikan jika bermanfaat